Terlalu semangat, overloud, dan Jeleknya setting sound system masjid mempengaruhi betahnya pengunjung

Posted on Agustus 11, 2011. Filed under: Kehidupan Nyata | Tag:, , , , , , , |

Sebelum membaca lebih jauh, perlu diketahui bahwa gaya penulisan saya adalah “beat around the bush” alias muter muter dulu baru ke pemikiran utama, singkatnya adalah induktif. Selamat membaca.

Di bulan Ramadan tahun 2011 ini tentunya tidak jauh beda dari bulan-bula ramadhan sebelumya yaitu meningkatnya quantitas pembaca Al-qur’an khususnya di masjid masjid. Acap kali ada anggapan bahwa pada hari hari awal ramadhan, orang orang pada aktif meramaikan masjid dengan segala kegiatannya dari tadarus hingga pengajian kitab kitab tertentu. Namun, pada hari hari berikutnya, orang orang cenderung menurun tingkat keaktifannya dalam mengikuti kegiatan kegiatan ramadhan di masjid masjid. Contoh yang paling banyak diketahui adalah menurunnya jumlah jamaah sholat tarawih. Sebagai orang yang bijak, tentunya kita tidak semata mata mengklaim bahwa menurunnya jumlah jamaah tarawih di masjid masjid itu dipengaruhi oleh menurunnya tingkat ketaatan beribadah orang orang di sekitar masjid itu, karena bisa jadi penyebabnya adalah orang orang yang tinggal di sekitar masjid itu adalah orang orang pendatang, yang pada hari hari mendekati akhir ramadhan, biasanya mereka pada mudik ke kampung halaman masing masing. Hal ini bisa dilihat di masjid masjid di sekitar kampus yang mulai banyak ditinggalkan oleh para jamaahnya yaitu mahasiswa.

Bagi saya, kegiatan ibadah yang paling membuat saya begitu menikmati adalah membaca Al-qur’an. Ketika membacanya, saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Tetapi sayangnya, ada dari kepribadian saya yang berbeda dari kepribadian dan pola pikir orang lain. Saya memang gemar membaca Al-qur’an, tetapi saya membacanya untuk diri saya sendiri, bukan kemudian ikut berpartisipasi tadarus. Saya sangat senang membaca Al-qur’an dengan suara nyaring atau keras, karena dengan membacanya dengan nyaring dan keras, seolah ada kemistri khusus yang menyelimuti diri saya, saya seperti berada di angkasa. Anehnya, meskipun saya suka membaca nyaring, saya tidak suka menggunakan microphone dan loud speaker seperti di masjid masjid. Ini memang agak aneh, tapi sekali lagi saya tekankan, saya tidak suka diekspose untuk kegiatan yang satu ini. Dalam hal yang satu ini, saya kebetulan satu visi dengan visi ibu saya. Ibu saya sering bilang “jangan suka pamer”. Ibu saya sangat membenci orang orang yang over-acting! ibu saya sangat tidak suka akan remaja remaja yang suka mempamerkan kebolehannya dengan menggunakan kedok kealiman yang seolah olah itu adalah kepentingan religi.

Hampir senada dengan yang saya rasakan, tetapi salah satu alasan mengapa saya tidak suka mengaji menggunakan loudspeaker adalah sebuah alasan historis dari daerah asal saya di mana saya menghabiskan separuh masa kecil saya. Waktu kecil, saya tinggal di lingkungan pesantren yang otomatis saya bergaul dengan para santrinya. Banyak sekali kegiatan yang saya ikuti mulai dari mengaji Al-qur’an hingga Diba’an. Dulu saya senang sekali ikut acara Diba’an (pujian untuk Rosulullah SAW), saya begitu menikmati setiap nada nadanya. Tetepi karena beberapa kejadian yang sepertinya sudah menjadi budaya tersembunyi, para santri itu berlomba lomba menyerukan betapa bagusnya suara mereka ketika  melagukan syair syair pujian tersebut dengan tujuan tersembunyi yaitu menarik perhatian para santriwati. Beberapa ustadz juga sempat meremehkan saya dengan mengatakan “suaranya si itu lho buagus, suaramu itu gak cocok, saking bagusnya suaranya si itu, para santriwati pada kesengsem”. Meskipun waktu itu saya masih kecil, dan sama sekali belum ada ketertarikan kepada lawan jenis, saya marah dalam hati karena ternyata semua usaha mereka itu diboncengi oleh tujuan terselubung yang bagi saya sama sekali tidak mulia. Okelah bahwa datangnya pujian pujian itu adalah konsekwensi dari keterampilanyang dimiliki, tetapi hati saya sekasar dan sekeras batu, could not be helped, saya menyatakan tidak akan ikut ikutan pamer kemampuan yang mengatasnamakan religi (sok alim). Ibu saya pun selalau berpesan supaya tidak ikut ikutan budaya semacam itu, kalau mau ngaji ya ngaji aja, tapi jangan ada niatan pamer.

Sampai saat ini, membaca Al-qur’an adalah salah satu kegemaran saya, meskipun kenyataannya frequensinya tidak selalu stabil, maklumlah, seperti kata ustadz bahwa iman manusia itu naik turun.

Nah sekarang baru saatnya menuju pembahasan utama. Ketika saya pindah ke Surabaya demi pekerjaan baru saya yaitu mengajar di PENS-ITS, saya mulai beradaptasi dengan kehidupan setempat. Kebetulan hari pertama saya di Surabaya menepati hari pertama ramadhan 2011. Saya mulai mencari cari masjid yang cocok dengan selera saya untuk sholat tarawih yaitu yang 23 rakaat termasuk witir. Saya jajaki dari masjid ke masjid mulai dari yang 11 rakaat hingga kemudian menemukan masjid besar baru yang menawarkan jamaah tarawih 23 rakaat. Tujuan saya selain sholat tarawih tentunya adalah supaya saya bisa menghabiskan waktu di masjid tersebut dengan membaca Al-qur’an. Saya tidak bisa membaca Al-qur’an di kos, karena tentunya akan mengganggu penghuni kos yang lain, mengingat kalau membaca Al-qur’an saya harus membacanya dengan nyaring untuk kepuasan diri saya sendiri (bukan untuk pamer).

Di masjid pilihan saya ini saya sangat senang karena lokasinya berdekatan dengan lapak lapak penjual nasi tempe penyet. Jadi jadwalnya adalah, sepulang dari kantor, langsung mandi, lalu buka buka puasa cukup dengan minum air putih, sholat magrib, lalu berangkat ke masjid. Motor diparkir di halaman masjid, kemudian keluar masjid sejenak untuk hunting penyet tempe. Sesudah perut kenyang dan agak kepedesan akibat sambel penyet tempe, saya segera mengambil wudhu dan mulai membaca Al-qur’an hingga datang adzan isyak, lalu disusul sholat tarawih. Setelah tarawih saya akan tetap di masjid guna melanjutkan membaca Al-qur’an.

Awalnya (waktu sebelum isya’) saya mengaji dengan gembira, karena masjid yang luas, dibalut marmer dingin yang menepis panasnya udara Surabaya. Namun, ketika adzan isyak mulai dikumandangkan, telinga saya seperti ditusuk tusuk oleh suara/sound system yang begitu nyaring, memekakkan telinga. Saya sendiri bertanya-tanya, apakah hanya saya saja yang merasa bahwa soundnya terlalu keras, karena saya melihat beberapa orang lain nampak biasa biasa saja. Ketika sholat isyak dimulai, sang imam membaca surat demi surat, dan ternyata suaranya sangat lembut, enak, dan tidak memekakkan telinga. Ketika sholat witir selesai, seseorang mengambil alih microhone yang diguanakan oleh imam, dia mulai melantunkan pujian pujian, beberapa anak anak kecil setempat yang sepertinya sudah terlatih dengan bacaan pujian pujian itu pun turut andil. Telinga saya kembali seperti dibentak bentak, pasalnya kali ini suaranya amat sangat memekakkan telinga. Saya ingin segera melanjutkan membaca Al-qur’an, tetapi akan sangat tidak pantas kalau saya membacanya tepat di tempat duduk saya yaitu di barisan sof depan dekat dengan gerombolan orang orang dan anak anak tadi yang begitu semangatnya menjerit dan melengking suaranya.

Saya kemudian pindah ke bagian lain di masjid, tapi nasib justru malang, di koridor lain itu justru terinstal sound yang begitu besar dan suaranya jauh lebih memekakan telinga. Saya berusaha pindah ke koridor lain, tetap saja demikian. Karena saya malu dilihat orang orang karena mondar mandir pindah pindah termpat, saya kemudian stay di tempat kedua yang ternyata sama sama terlalu keras sound yang dikeluarkan. Suara dari mulut saya beradu dengan suara melengking dari sound system.

Sedikit banyak saya ini mengerti urusan audio. Ketika masalah ini menimpa saya, saya mencoba menganalisa dengan membanding bandingkan satu dengan lainnya. Di Masjidil Haram Makkah, speaker terpasang hampir di setiap pilar masjid, sehingga suara terdengar di mana mana. Namun demikian, suara yang dihasilkan begitu mendamaikan, sama sekali tidak memekakkan telinga. Sementara di masjid ini, speaker nya hanya beberapa saja tetapi suaranya begitu mengganggu. Kedua, ketika tadi sang imam menggunakan mic nya, suara yang dihasilkan begitu halus. Jadi kesimpulan sementara yang saya ambil adalah bahwa bagus dan jeleknya audio masjid dipengaruhi oleh kecanggihan teknology yang dipakai. Masjid Al Haram tentunya menggunakan sound system yang sangat canggih, sedangkan di masjid ini ala kadarnya. Lalu, si teknik menggunakan mic juga berpengaruh. Hal ini terbukti pada perbedaan efek yang ditimbulkan antara si imam dan si orang dan anak anak yang saya sebut tadi.

Saya juga kemudian teringat akan permasalahan sosial yang ditimbulkan oleh kejadian semacam di atas. Tetapi, karena saat ini saya sudah capek menulis, permasalahan sosial tersebut akan saya bahas di kesempatan berikutnya di postingan yang berbeda.

Alhasil, saya tetap bertahan mengaji di masjid itu, dengan menjalankan metode yang agak ampuh tapi agak memalukan yaitu dengan menjadikan sajadah tebal saya menjadi semacam kerudung demi mengurangi hantama lengkingan suara dangan kadar trebble yang tinggi tersebut.

Terimakasih, Salam.

Aliv Faizal Muhammad

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 2 so far )

Menyikapi posting blog masjidancol.wordpress.com “Kiat sederhana memakmurkan masjid”

Posted on Mei 25, 2010. Filed under: Agama & Rohani | Tag:, , , , , , , , , , , , , |

Ketika melihat dashboard saya di wordpress.com, saya sengaja mengecek tulisan tulisan terbaru di wordpress.com, nah mampirlah saya di blog masjidancol.wordpress.com yang saat itu memposting “kiat sederhana memakmurkan masjid”. saya sangat tertarik dengan ide yang disampaikan. untuk itu saya tergelitik untuk mengomentari posting tersebut melalui beberapa ulasan dari saya. tapi sebelumnya, alangkah baiknya kita simak dulu posting tersebut, berikut kutipannya di bawah ini:

1. SERUKAN AJAKAN SHOLAT DALAM BAHASA SETEMPAT (INDONESIA, JAWA, SUNDA, DLL) 30 MENIT SEBELUM JATUH WAKTU SHOLAT / SEBELUM AZAN. SEBAGAI CONTOH : “KEPADA YTH.BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, ADIK-ADIK REMAJA PUTERA DAN PUTERI YANG HENDAK MELAKSANAKAN SHOLAT (MAGHRIB, ISYA, SUBUH) BERJAMAAH, DIPERSILAHKAN UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRI DATANG KE MESJID. WAKTU SHOLAT BERJAMAAH ±30 MENIT LAGI.”
2. 15 MENIT KEMUDIAN, ULANGI SERUAN YANG SAMA, “KEPADA YTH.BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, ADIK-ADIK REMAJA PUTERA DAN PUTERI YANG HENDAK MELAKSANAKAN SHOLAT (MAGHRIB, ISYA, SUBUH) BERJAMAAH, HARAP BERSEGERA UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRI DATANG KE MESJID. WAKTU SHOLAT BERJAMAAH ±15 MENIT LAGI.”
3. 10 MENIT KEMUDIAN, ULANGI SERUAN YANG SAMA, “KEPADA YTH.BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, ADIK-ADIK REMAJA PUTERA DAN PUTERI YANG HENDAK MELAKSANAKAN SHOLAT (MAGHRIB, ISYA, SUBUH) BERJAMAAH, HARAP BERSEGERA UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRI DATANG KE MESJID. WAKTU SHOLAT BERJAMAAH ±5 MENIT LAGI.”
4. AZAN
5. SHOLAT QOBLIAH, TUNGGU BEBERAPA SAAT, ±5 MENIT, BARU KEMUDIAN….
6. IQOMAT
7. SHOLAT BERJAMAAH.

begitulah tips yang diberikan oleh blog masjidancol.wordpress.com

nah sekarang akan saya bahas melalui 2 sudut pandang. 1 akan saya kaitkan dengan matakuliah linguistics tepatnya di area pragmatics, dan 2. saya kaitkan sedikit dengan keagamaan, disini yang saya maksud adalah hadits nabi.

1. dari sisi linguistics (pragmatics)

– Penulis memberikan seruan dengan jarang masing masing berjarak sekitar 5 dan 10 menit, yang diawali 30 menit sebelum adzan. pengumumannya diserukan menggunakan bahasa lokal, kebetulan yang digunakan adalah bahasa Indonesia. sebenarnya apapun bahasanya, tujuannya adalah supaya orang orang sekitar mendengar dan memahami seruan itu.memang akan berbeda ketika seruannya menggunakan bahasa arab, misalkan adzan, orang bisa mendengar namun belum tentu bisa memahami. tapi jika menggunakan bahasa lokal maka akan mudah dipahami.

– seruan pertama ke dua dan ketiga, meskipun kalimat dan kata kata yang diguanakan tidak sepenuhnya persis, tapi menurut saya ketiga seruan itu bisa dibuat lebih singkat menjadi satu kalimat saja yang bisa diulang ulang 3 kali. tetapi yang perlu digaris bawahi disini adalah bukan struktur kata katanya, tetapi makna yang disampaikan. nah maka itu saya rasa akan seru untuk menelaahnya menggunakan kacamata ilmu pragmatics. bahasan lebih detail yaitu pada ranah Speech act, dan lebih kusus lagi pada Perlocutionary act.

– Di dalam ilmu pragmatics, dikenal istilah speech act atau dalam bahasa indonesia lebih dikenal dengan sebutan tindak tutur. maksudnya adalah dalam sebuah ungkapan atau tutur kata, terdapat sebuah tindakan. misalkan saja ungkapan “saya minta maaf telah menginjak kaki anda”. ungkapan tersebut mengandung tindakan yaitu “tindakan minta maaf” dalam mata kuliah linguistics pragmatics dikenal sebagai the act of promising. phenomena diatas dikenal dengan sebutan illocutionary act. nah pada seruan pertama, kedua, dan ketiga di atas, illocutionary act yang hadir adalah the act of reminding atau tindakan mengingatkan karena tujuannya memang mengingatkan waktu solat kepada orang orang sekitar masjid. nah, tetapi ternyata tindakan mengingatkan yang termasuk dalam illocutionary act tersebut bisa menimbulkan efect lain yaitu yang disebut dengan perlocutionary act. artinya si pendengar illocutionary act tersebut (tindakan mengingatkan / the act of reminding) terkena efek dari tindakan tersebut. nah sekarang apakah efeknya?

– sebelum kita menelaah efek apa yang ditimbulkan tindakan mengingatkan di atas (the act of reminding), kita lihat contoh perlocutionary act yang saya kutip dari buku Introduction to Linguistics oleh ibu Nirmala Sari terbitan depdikbud tahun 1988. berikut contohnya: sepasang suami istri hendak bepergian ke sebuah pesta. karena dirasa terlambat, si suami mengingatkan si istri yang masih sibuk berdandan “ma…kita sudah telambat lho..”. seruan oleh si suami tersebut terdapat illocutionary act yaitu the act of urging (menasehati / memburu burui/memberi tahu dsb.). nah, tetapi karena kemudian si suami mengulang ulang seruan tersebut setiap menitnya berulang ulang, maka seruan tersebut awalnya yang dimaksudkan untuk (the act of reminding/urging = illocutionary act) mengingatkan bahwa waktunya sudah mepet alias terlambat, berubah menjadi perlocutionary act yaitu the act of irritating (menyakitkan / mengganggu). nah si pendengar di sini adalah si istri, maka istri tersebut yang terkena efek dari perlocutionary act. nah bagaimana sinkronisasi bahasan ini dengan seruan sholat 30 menit lebih awal, menggunakan bahasa lokal, dan berulang ulang.

– jika mau jujur, kita semua ini kebanyakan malas sholat, bahkan ketika mendengar seruan sholat saja kita cenderung ogah ogahan. maka ketika mendengar seruan tersebut, yang meskipun tujuan awalnya adalah mengingatkan, tetapi secara natural naluri manusia akan cenderung merespon secara negatif terhadap panggilan tersebut. lebih lebih bagi orang yang memang kesehariannya jarang atau bahkan tidak ke masjid. artinya seruan seperti ini membuat para pendengarnya pada sakit telinga, atau pada panas telinganya, atau terbakar telinganya, atau apalah sebutannya. cara ini terkesan memaksa, mungkin cara ini akan efektif untuk menyedot para pengunjung masjid, tetapi kehadiran mereka bisa saja dibarengi dengan rasa tidak ikhlas, kecuali bagi orang orang yang sadar dan berpositif thinking. bisa juga bagi orang orang yang memang tertutup hatinya malah akan menyimpan dendam pada si penyeru tersebut dan bahkan bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya ke masjid karena merasa disakiti hatinya. nah, kalau sudah begini, yang jadi korbannya adalah si masjid itu sendiri yang kehilangan calon penggemar 😀 .

– akan tidak adil jika hanya mengupas sisi pragmatics nya saja. seolah olah saya menyalahkan ide seruan 30 menit sebelum sholat jamaah dimulai. sekarang akan saya kupas dari sisi agama yang dalam hal ini saya bertengger pada salah satu haditz nabi.

– sayangnya saat ini saya hanya bisa mengingat kandungan dari hadits tersebut, tetapi belum bisa menulisnya di sini, mungkin dilain kesempatan akan saya cantumkan referensi detail dari hadits tersebut.

– hadits tersebut bermaksud kurang lebih ” bahwa dalam melakukan kebaikan kitu itu memang harus dipaksa dulu, tapi nanti toh juga akan mengerti efek positifnya, karena kita cenderung susah melakukan hal hal yang menuju kebajikan” nah kira kira demikian isi haditsnya, kalau ada kesalahan mohon direvisi, karena informasi seperti ini kalau disalahgunakan bisa jadi dosa, kata ustadz saya.

– artinya seruan tadi yang terkesan begitu memaksa, memang tetap harus dilakukan, lama kelamaan mereka yang tidak mau meramaikan masjid dengan berjamaah di masjid, akan terbiasa dan terbuka hatinya kemudian menyadari betapa besar manfaat dari seruan tadi. satu lagi yang perlu dilihat adalah ketika seseorang sudah beberapa kali hadir di masjid,maka dia akan merasa jadi anggota masjid itu sendiri, sehingga seruan seperti diatas tidak lagi terkesan memaksa tetapi justru mengajak.

Demikian dulu ulasan dari saya, semoga memberi manfaat. nampaknya jari jari saya sudah mulai kelelahan. mohon pamit dulu, saya mau melanjutkan mengajar. tadi saya menulisnya pas jam istirahat.

jangan lupa tinggalkan komentar.

wassalam,

Aliv Faizal Muhammad

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( None so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...