Siapapun bisa membuat lagu

Posted on Desember 18, 2008. Filed under: Belajar Musik | Tag:, , , , , , , , |

Membuat lagu bukan hanyalah keinginan seorang musisi, atau orang yang bisa memainkan alat musik dalam artian menguasai bukan sekedar main tiup (seruling) petik (gitar) pencet (piano) dan yang lainnya, tetapi orang yang suka musik.

Mengapa orang yang hanya suka musik tapi tidak bisa memainkan satupun alat musik punya keinginan menciptakan lagu?

jawabannya bukan hanya “ya” mereka “berkeinginan” tetapi “malah” mereka sudah ada yang berhasil menciptakan lagu. Pada saat saya mengerjakan proyek lagu anak anak berbahasa inggris, dimana setiap kelas diminta menyetorkan 5 judul lagu karangan mereka sendiri yang kemudian akan di seleksi setelah dikumpulkan bersama lagu lagu kelas lainnya dari A hingga F, jadi jumlah lagunya mencapai 30 lagu. Rencananya akan diambil 20 lagu saja untuk di aransement dan di rekam dalam format video cd. Ternyata, banyak dari lagu lagu yang lolos seleksi itu justru dibuat oleh para mahasiswa yang sama sekali tidak bisa memainkan alat musik.

Apa yang membuat mereka bisa menciptakan lagu yang apik?

Setelah crew penyeleksi lagu lagu tersebut melakukan telaah lebih lanjut, kami akhirnya menemukan sebuah jawaban bahwa setiap pencipta lagu itu pasti mendapatkan inspirasi dari hal yang lain. Mungkin bagi musisi kondang, inspirasi itu berupa melodi saat mereka bermain main gitar atau piano. tetapi bagi orang yang hanya berbekal cinta dengan musik, mereka akan terinspirasi dari lagu lagu yang mereka ketahui sebelumnya. partner saya IKHSAN yang tidak lain adalah guru saya main gitar, memaparkan keyakinan tersebut bahwa pasti ada lagu lain yang mereka jadikan referensi lagu lagu ciptaan mereka. Berikut analisa dan contoh nyata fakta tersebut:

Salah satu judul lagu yang lolos seleksi pada album ENGLISH FUN yang kami garap tersebut adalah “couple of cat” yang dimotori oleh IMA karena menurut kelompok mereka, IMA lah yang berperan banyak dalam penciptaan lagu itu. Kebetulan IMA adalah teman sekelas saya, kemudian saya tanya tanya pada IMA dan kelompoknya tentang bagaimana proses pembuatan lagu “couple of cat” tersebut kok bisa buagus gitu jadinya. Banyak sekali komentar berdatangan dari kelompok tersebut, namun satu satunya jawaban yang paling gamblang adalah dari IMA sendiri, katanya dia terinspirasi dan teringat ingat lagu “KOTEK KOTEK” itu loh.. yang “kotek kotek kotek kotek..anak ayam berkotek..anak ayam turun delapan, mati satu tinggallah tujuh, dan seterusnya..”. kemudian IMA memberi sedikit modifikasi pada nada nadanya dan tentunya modifikasinya hanya terjadi di benaknya tidak didukung dengan olah nada menggunakan alat musik, kan dia sama sekali tidak bisa memainkan alat musik. hingga sim salabim.. jadilah lagu “couple of cat”.

saya dan Ikhsan pun mencoba memadukan kedua lagu tersebut dan hasilnya..ya..banyak kemiripan kalau benar benar diperhatikan, namun perlu diakui bahwa kepiawaian IMA mengolah lagu “kotek kotek” yang ia jelmakan menjadi “coupe of cat” benar benar luar biasa, karena jika tidak diperhatikan benar benar, maka sama sekali tidak akan ditemukan kemiripan diantara keduanya. maka dari situlah saya membenarkan teorinya mas IKHSAN.

Nah, dari cerita diatas semoga bisa dijadikan inspirasi dan motivasi agar tidak minder membuat lagu. buatlah lagu anda, nyanyikanlah maka anda akan bangga, terus nyanyikanlah dengan lantang hingga orang lain mendengarnya, maka mereka akan menyukainya.

masih kurang puas? baca postingan laiinya, masih seputar membuat lagu.

Iklan
Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Reinforcement dan Punishment

Posted on Desember 17, 2008. Filed under: Pendidikan | Tag:, , , , , , , |

Reinforcement dan Punishment merupakan perlakuan pendidik kepada anak didiknya. reinforcement dan punishment juga merupakan strategi untuk mengajar dan mendidik siswa, namun, diantara kedua perlakuan tersebut manakah yang lebih baik dan bermanfaat? simak ulasan di bawah ini.

1. Reinforcement

Reinforcement dalam dunia pendidikan anak diartikan sebagai penghargaan yang diharapkan bisa meningkatkan sikap dan perkembangan positif pada anak didik. Biasanya reinforcement berupa hadiah dan pujian. Berikut adalah contohnya;

Hadiah kejutan untuk kesuksesan ulangan harian

Misalnya, anda adalah seorang ibu atau ayah yang sedang menjemput pulang anak anda. Di dalam perjalanan pulang atau boleh juga pada saat tiba di rumah, tanyakan pada anak anda apakah hari ini ada ulangan atau tidak, jika ada ulangan bagaimana hasilnya. misalnya anak anda mendapatkan nilai 8 atau 9, maka ajaklah anak anda untuk merayakan keberhasilannya mencapai nilai tersebut. Langkah ini telah terbukti mampu memacu semangat belajar siswa, maka di sinilah terjadi reinforcement. perlu diketahui bahwa untuk melakukan reinforcement tidak harus menunggu anak mendapatkan nilai 8 atau 9, namun berapapun nilainya, orang tua harus mensupport anak didik.

Ada beberapa wujud reinforcement yang sering dilakukan oleh pendidik. Pertama, reinforcement perayaan keberhasilan dengan memberikan hadiah berupa makanan, kedua, berupa ucapan selamat, dan ketiga berupa hadiah yang lain seperti menonton film kesukaannya, pergi piknik dsb.

Dari beberapa bentuk reinforcement di atas, manakah yang paling baik?

secara berurutan, reinforcement berupa ucapan selamat menempati urutan teratas, disusul pemberian hadiah seperti nonton film dan piknik, dan akhirnya berupa makanan.

Reinforcement atau bukan?

jika seorang guru memberikan iming iming pada anak didiknya bahwa si anak didik akan mendapat hadiah uang, permen, sampai kesempatan pulang terlebih dahulu, bukan merupakan reinforcement, karena mereka hanya akan tertarik pada permen atau kesempatan pulang lebih awal. perlakuan semacam ini hanya akan memberikan efek negatif.

Penerapan reinforcement yang benar adalah “tidak ada peraturan, atau syarat di awal” maksudnya tidak ada perjanjian sebelumnya, namun lebih pada sebuah kejutan bahwa mereka mendapat penghargaan setelah mereka menjalankan kerja keras mereka.

Tidak lagi reinforcement?

Pada sebuah kasus di mana sebuah kelas yang berisi 20 siswa sedang melakukan ujian harian, 3 dari siswa tersebut mendapatkan nilai 10. kemudian sang guru memberikan mereka kesempatan nonton film sesuai judul kesukaan mereka yang disediakan oleh sekolah. dari sini maka siswa yang lain tentunya akan mengetahui konsequensi mendapatkan nilai 10 bisa menonton film dengan judul sesuai pilihan. mereka kemudian ikut ikutan berpacu mendapatkan nilai 10. Nah, apakah peran reinforcement di sini sudah tidak asli reinforcement lagi? jawabnya adalah, dalam ilmu konseling ada istilah Social Learning Theory, dimana, siswa sebenarnya tidak termotivasi oleh nonton filmnya tetapi keinginan meniru keberhasilan orang lain, sehingga mereka terpacu untuk belajar lebih serius. Demikian, reinforcement masih memegang fungsi aslinya sebagai reinforcement.

perlu diketahui bahwa sebaiknya reinforcement tidak diberikan berupa hal yang sama secara berulang ulang, karena disini anak didik sudah  bisa menebak apa yang akan mereka dapatkan, sehingga reinforcement akan kehilangan nilai aslinya.

Selama bertahun tahun dalam kiprah sepak terjang perjalanan panjang sejarah pendidikan di Indonesia, para pendidik kita melupakan peran reinforcement yang sebenarnya sangat fundamental dalam membentuk kepribadian dan semangat belajar siswa. reinforcemet tidak harus mahal, karena reinforcement yang paling baik adalah dengan kekuatan kata kata yang membangun. selama ini masih banyak para pendidik kita yang hanya menggunakan punishment atau hukuman.

2. Punishment

Punishment atau hukuman bukan hal yang baru lagi dalam dunia pendidikan. hukuman sudah terlalu mengakar tunggang dalam benak para pendidik dari jaman pendidikan yang penuh kekerasan hingga sekarang yang meskipun sudah di sana sini digembar gemborkan penghapusan kekerasan pada siswa tetap saja hukuman yang tidak membangun baik berupa kekerasan dan lainnya diterapkan dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

contoh dari bentuk punishment yang tidak membangun banyak sekali ditemukan di sekolah, sebut saja siswa kena strap, harus berdiri dibawah tiang bendera. hukuman seperti demikian itu sama sekali tidak membangun. mestinya, ketika siswa melakukan sebuah pelanggaran, hukumlah mereka dengan sesuatu yang justru memberikan manfaat yang positif bagi mereka, misalnya dengan menghafalkan kosa kata bahasa inggris dengan jumlah tertentu dan masih banyak hukuman lainnya yang jauh lebih memberikan kontribusi positif.

Reinforcement yang berubah menjadi punishment

Bisakah sebuah reinforcement berubah menjadi punishment? jawabnya ya,bisa, simaklah kasus di bawah ini:

Sebuah keluarga yang mempunyai kebiasan makan siang bersama mampu menciptakan kehangatan tersendiri di tengah tengah keluarga, kehangatan ini adalah wujud reinforcement sehingga para anggota keluarga selalu ingin pulang agar bisa makan siang bersama keluaraga. namun, pada saat salah satu anggota keluarga, misalnya sang kakak saat pulang sekolah tidak langsung pulang ke sekolah tapi main dan mampir dulu ke rumah teman dan dilakukan berulang ulang, maka pada saat ia pulang kerumah tidak satupun dari anggota keluarga mau berbicara dengannya mulai dari ibu, ayah, dan adik karena ketidakikutsertaan sang kakak dalam acara makan siang berssama. gara gara sikap acuh itulah si kakak merasa mendapatkan hukuman. maka disitulah reinforcement berubah menjadi punishment.

Demikian sedikit pengetahuan yang baru saja saya dapatkan hari ini. koreksilah jika anda menemukan kejanggalan didalamnya, maka dengan senang hati, aliv akan mempertimbangkan dan memperbaikinya. semoga bermanfaat.

Baca Pos Lengkap | Make a Comment ( 4 so far )

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...